Project 02 Juni 2014
Hasratku
kembali menyeruak kepermukaan…
Terpikir
sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu,
Aku tak tau harus memulai dari mana.
Karena saat itu, dia bukanlah sosok yang menjadi inti di hatiku. Tapi dia
adalah sosok yang menjadi inti pencarian kedua bolah mataku di setiap pagi yang
surga.
Saat itu, aku tercatat sebagai salah
satu siswi kelas VIII di SMP 1 Wiradesa. Dan untuk sampai di sana, aku harus
terus mengayuh sepeda polygon merah mudaku. Biasanya aku berangkat dari rumah
sekitar jam tujuh kurang seperempat. Dan
entah sejak kapan, ada sosok yang mulai tak asing lagi dibenakku. Yang sering
kulihat.
Tak ada yang special darinya, katakanlah
dari parasnya, (mungkin?). Dia hanyalah seorang siswa SMA 1 Wiradesa. Dan di setiap
pagi yang cerah, di saat itu pula, aku melihat kehadirannya. Ia berjalan dengan
gagahnya laksana petahana yang dihormati. Tak ada senyum simpul yang
tersikap dari kedua bibirnya. Tapi sorot matanya sesekali membuyarkan kinerja
otakku yang sedang focus mengayuh. Charisma…
mungkin itulah kata yang tepat. Seperti halnya sinar matahari yang selalu
mensejahterakan bumi. I like sharp glance
of his eyes.
Aku mengayuh sepeda, sementara ia
berjalan. Aku pelajar SMP, sementara ia pelajar SMA. Dan saat itu, masih dengan batik abu-abunya.
Lantas siapakah gerangan sosok yang selalu menyambutku pada pagi yang surga?
Siapakah namanya? Aku tak pernah tahu. Sehingga aku menyematkan sebutan “mas2
spatra” untuk menunjuk sosoknya yang John Doe. Jadi, diantara puluhan
siswa laki-laki di SMA itu, mas2 spatra yang dimaksud hanyalah dia. Dia yang
selalu menyambutku pada pagi yang surga.
Untuk memuaskan rasa penasaranku, aku
sering memincingkan mataku ke arah papan namanya. Tapi hal itu sangat sulit.
Sesulit saat kau hendak melihat wujud seekor semut yang diam di atas batu pada
malam kelam tanpa cahaya rembulan. Nyatanya, tentulah hal itu sulit, karena
kecepatan orang yang naik sepeda tak sama dengan kecepatan orang yang berjalan.
Selisih meter per sekon-nya lebih unggul diriku. Tapi dari usaha dan percobaan spionase-ku,
aku hanya mendapatkan sebuah fakta. Saat ia mengenakan seragam OSISnya,
tersematkan sebuah beadge PMR di lengan kirinyanya.
Entahlah, tak kenal akar tak kenal
puncak. Tak tau awal tak tau akhir. Sejak kapan aku sering berpapasan, tak tau.
Sampai akhirnya tak pernah berpapasan, pun tak tau. Yang jelas setelah hari
itu, aku tak pernah disambut oleh pagi yang surga seperti biasanya.
Kami sama-sama berada di kelas 3, hanya
berbeda tingkatan saja. Tentunya kami sedang sibuk mempersiapkan diri untuk
menghadapi momok bagi para pelajar, UN. Semenjak kesibukan itu, aku lupa
dengannya. Aku tak lagi penasaran. Tak ada lagi pemikiran tentangnya. Tapi
setelah pengumuman kelulusan tingkat SMA, akupun tau namanya. Beruntung,
kakaknya temanku satu angkatan dengannya. Jadi, temanku Ade, menyodorkan buku
kenangan itu. Well, setelah tau namanya (yang ternyata bagus banget) aku pun
mencoba mencari di FB, ternyata ada.
Sampai akhirnya aku telah menjadi siswi
di SMA 1 Wiradesa ini. Sekolah yang pernah ia tempati sebelum aku memasuki
gedung ini. Lalu aku menjadi salah satu anak anggota tiga organisasi besar,
ambalan. Tentunya aku juga ikut kegiatan organisasi lain. Katakanlah kegiatan
DIKLATSAR oleh organisasi PMR. Dari sini aku tau, bahwa yang memiliki beadge
PMR bukan hanya anak PMR, tapi organisasi lain juga. Lalu aku menyimpulkan
bahwa mas2 spatra adalah salah satu anak organisasi.
Ajaibnya, sewaktu dia berulang tahun ke
19th, aku sedang membuka akun FB-ku. Dan ohhh… aku melihat namanya tertera di event birthday. Ternyata permintaanku
telah dikonfirm pada oktober 2012. Kebetulan saat itu dia online. Dengan
sedikit keraguan aku coba Tanya-tanya tentang dia lewat chat. Ternyata orangnya asik juga, bisa gombal juga, dan kadang
judes juga. Tapi setidaknya, tebakanku bahwa dia anak organisasi itu benar! Dia
rupanya anak PMR. Aku juga sempat menemukan fotonya pada salah satu album di
lemari PMR.
Kita jadi sering chattingan, kadang
smsan juga. Rasanya cukup aneh mengingat aku tak begitu mengenalnya, tapi ya
senang. Bahkan dia pernah sempat mengajakku nonton pada akhir bulan februari.
Tapi tidak jadi. Padahal dia adalah orang yang pertama kali mengajakku nonton
berdua. Nah, mungkin saja justru karena berdua itu aku malah jadi ragu. Pengen
tapi ragu, mau tapi malu. Memang sebenarnya aku itu orangnya pemalu, pendiem,
dan kadang terlalu jaga image. Hanya saja memang kalau di FB terlihat cerewet,
tapi itu tidak tepat. Akhirnya kesempatan nonton bareng itu gagal, sia-sia. Dan
nampaknya aku harus melakukan penangguhan lebih lama lagi untuk bertemu
dengannya. Sebenarnya alasanku ingin bertemu cukup aneh namun simple. Hanya
ingin mendengar suaranya. Karena aku belum pernah mendengar suaranya sama
sekali, bahkan hamper 4 tahun aku mengenal wajahnya. Padahal kita masih di kawasan
kecamatan yang sama. Jarak antara Kepatihan-Pekuncen itu memang jauh kalau
takdir belum mempertemukan dan tak ada niatan.. ya kan?
Aku rasa cukup. Semoga tidak berlebihan.
Semoga anda tidak marah. Kalaupun anda tidak berkenan dengan postingan ini, silahkan
unfriend akun saya. Terima kasih sudah membaca.
See you when I can see you :)
Bukan
tentang cinta,
Hanya ingin melihat
wajahmu….
Bukan
tentang suka,
Hanya ingin melihat
wajahmu….
Bukan
tentang memikirkanmu,
Hanya ingin melihat
wajahmu….
ITU
SAJA
Aku
tidak terlalu merindukanmu, tapi
Hanya ingin
melihat wajahmu….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar