Postingan Populer

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Taman Sang Nabi




Taman Sang Nabi


Ada berarti bijaksana, tanpa bersikap asing bagi si dungu..
Ada berarti menjadi kuat, bukan dengan dalih melemahkan si lemah..
Ada berarti bebas bermain dengan anak-anak, bukan sebagai orang tua..
Ada berarti sederhana, tanpa ulah tingkah terhadap wanita dan pria renta..
Ada berarti tanpa angin suatu apa, tidak meragukan suatu apa..
Ada berarti mengikuti jejak terbang keindahan, walau tanpa sayap..
Ada berarti penenun yang berjari awas menerawang kebutuhan..
Ada berarti ahli bangunan yang arif mengolah cahaya dan ruang..
Ada berarti berjari pencipta dan berotak penemu, pembuat benda segala kebutuhan manusia, demi kesejahteraan dunia..
Ada berarti penggarap tanah yang sadar menanam sebutir manikam..
Ada berarti menjadi taman tanpa pagar, kebun anggur tanpa penjaga, gedung harta karun yang terbuka, bagi setiap orang lewat..
Ada berarti menjadi pemburu atau nelayan yang beriba kaish pada satwa ad ikan buruan, namun iba kasihnya jauh lebih besar pada kebutuhan dan rasa lapar sesama manusia..
Ada berarti saling melengkapi demi kemaslahatan manusia..
Ada berarti berani, tidak kecil hati, lapang dada dan tidak sempit budi..
Ada berarti paham, bahwa selama salah satu jendela jiwa terbuka bagi ufuk timur, tak kan hatimu lara terliputi..
Ada berarti paham, bahwa orang-orang yang melukaimu, memfitnahmu, dan menipumu, adalah saudaramu yang kesempitan..
Ada berarti dirampas, ditipu, diperdayakan, disesatkan, dijebak, lalu ditertawakan, namun menandang semuanya dari ketinggian pribadi besar dengan senyum sabar..
Ada berarti sampai detik terakhir dan nafas penghabisan tetap menghidupi pribadinya menjadi lebih besar..
                                                                        -Kahlil Gibran-


Beberapa karya sastrawi aku adalah pengilhaman mulya dari sesosok pemuda. Terhapuskan semua tanda titik dan koma saat meguraikannya. Sebutan masa lalu dari kami­—olehku dan rekan-rekan angkatan Internasional. Iya!! Nama itu selalu gagah berdiri dan menyambutku dengan senyum hangat di seluruh sudut Diary-ku. Frontal yang terhimpit palung Ke-TidakCerdas-an ini semata hanyalah hayalan seniman berpena. Dan jangan anggap kucuran hati ini sebagai kelopak-kelopak edelweis yang enggan layu dengan setia. Teruntuk Pangeran, dengan mengacuhkan rasa malu, kami—aku dan puisiku— hadapkan ungkapan hati Shinta pada Rama.
……………………………………………………………………………….
Coba dengarkan derap langkah yang kaku itu. jika aku jadi kamu, aku akan menyimak makna di balik isyarat langkah tersebut.
Setiap hari di sekolah, aku tak pernah absen melakukan ini saat jam istirahat. Aku selalu berjalan dengan penuh harap dari kelasku menuju arah barat. Tadinya jarak ke sana tidaklah jauh dari kelasku. Hanya melewati 3 ruang kelas. [before moving class format]

Hei kamu!
Tataplah dalam-dalam kedua bola mataku, yang memantulkan cahaya rindu.
Tik tik tik.., irama detik yang mengiringi keraguan.
Tuk tuk tuk—bunyi langkah sepatu— “mungkinkah sneakersku seberat ini?”
Dag dig dug.., ini suara yang paling mengusikku.

Kini aku baru melewati setengah jalan. Tepatnya di depan kelas X.3. mungkn duduk sebentar dan memotivasi diri bagus. Akan kuatur ritme pernapasanku yang mulain false[red:fales]. Dengan bebrapa konflik batin yang menyampah, mataku tetap fokus ke sebuah sudut putih yang menguraikan aura ketenangan.
Aku tidak akan terlalu lama di sini. Mungkin mereka akan menyangka aku menunggu sang bendahara. Salah satu diantara mereka adalah temaku yang selalu meledekku. Dia kira aku suka Justin, padahal aku belum bisa move on dari Kidrauhl.
“Hahahahahahahahaha….”
Maaf saja, gendang telingaku hapir pecah mendengar tawa bernada iblisnya. Aku rasa melanjutkan perjalanan lebih baik.
Terhitung 30 detik waktu yang kuhabiskan. Untunglah pancaran aura ketenangan belum redup. Segera kupercepat langkah, walau seberat apapun beton yang diikat di kakiku. Aku rasa kekuatan pemberontak di hatiku telah mengubah beton menjadi sebatas debu.
Sepuluh langkah lagi aku akan sampai di tujuan, zona ketenangan. Dia masih bersama teman-temannya. Semakin dekat jarak diantara kami. Maximum high tention. Dan kini, kaki sprinter (pelari sprint) ini menjelma menjadi kaki penghuni panti wredha. Tak henti bergemetar. Mungkin akan sama rasanya seperti saat kalian naik bajaj. Jujur, walaupun aku belum pernah naik bajaj.
Aku sampai! Aku tepat disampingnya. Lidahku kelu. Menurut kalian dia melihatku? Entahlah… tapi seharusnya dia melihatku. Tak banyak yang berubah dari sikapnya yang pemalu. Mengingatkan aku sewaktu dulu. Saat kita sering berpapasan; sewaktu dia baru turun dari bus, atau sewaktu berpapasan di toilet. Kepalanya tertunduk kaku. Andai aku seorang indigo, akan kucapai dasar pemikiranmu melewati silindris waktu bersama kilatan cahaya. Dengan begitu membaca pikiranmu akan lebih mudah daripada membuatmu sedikit tersenyum padaku.
Mulutku selalu bertele-tele saat melewatimu. Mungkin saja karena nervous. Ataukah itu bagian dari menarik perhatian dengan cara rendahan dan hina? Semoga kamu tak pernah menganggap ini sebagai hal berlebihan. Tetaplah sampaikan “kata-kata yang manis” saat kau menilaiku secara “berbeda”. Dan kamu hanya perlu menunggu waktu untuk menyempurnakan penampilanmu, dengan tongkat sihir puitisku. [Hari itu telah berlalu, Kamis, 2709].
Cukuplah selongsong peluru hampa ini kutujukan pada semesta. Kerumitan yang mengikat alfabet mungkin hanya bisa terdeteksi oleh kehidupan fana. Bukan maksud memetik kuntum untuk melukai akar. Maaf jika barisan kalimat ini tak mampu membuat Pangeran tersipu akan ungkapan hati Shinta pada Rama. Dan jangan menghindar dariku. AKU MOHON.
Inspirasi puisi Taman Sang Nabi, Dearest Someone

Kau berarti rupawan, tanpa menjadi asing bagi si jelek..
Kau berarti diam, tanpa meninggalkan senyuman..
Kau berarti renungan, cahaya terang awal perubahan..
Kau berarti kenangan, yang tak terhindarkan, yang tak terlupakan..
Kau berarti menjadi hangat, dengan dalih mendampingi sahabat..
Kau berarti roman, dimana kita tak terpisahkan..


pict : http://www.ragamseni.com/wp-content/uploads/2016/04/Starry-Night.jpg
< >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar