Postingan Populer

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Menunggu....



Sabtu malam, di kamar.
Sepi,sambil mendengarkan MP3 lagu "Kau  Yang Ada Dihatiku- Maliq n D'essential (25/1/2014)

Ini malam mingggu…
                Aku menunggu…
                Menunggu sebuah pesan teks singkat dari seseorang. Hari malam ini aku menunggu itu dengan perasaan yang sama. Seperti lima tahun lalu aku menunggu untuk tahu namanya. Seperti setiap pagi aku menunggu untuk berpapasan dengannya. Seperti ituah aku menunggu itu, seperti saat aku menunggu untuk mengenalnya.
                Aku menunggu…
                Menunggu sebuah kepastian untuk hari esok. Menunggu balasan atas penantianku selama 5 tahun, atau 2 tahun terakhir, atau lebih singkat, dua minggu sebelum ini.
                Menunggu, menunggu, dan resah. Jadi bagaimana­­ dengan janji nonton bersama itu? Apakah jadi atau…  Aku menunggu antara sabar dan tidak sabar.
Akhirnya aku mengawali conversation via teks message malam ini. Apakah aku Nampak ganjen? SEMOGA TIDAK! Tapi sampai jam sepuluh ini aku belum berani untuk menyinggung point-nya. Aku menunggu… Menunggu dia yang memulai. Menunggu dia yang bertanya tentang janji hari esok. Ataukah dia lupa? Haruskah aku bertanya terlebih dahulu? Pasti aku akan Nampak ganjen.
                Jadi, besok jadi?” tanyaku dalam hati menunggu.
                Hari Minggu… Besok! Besok Hari Minggu… Besok!” seruku berulang kali dalam hati.
***
                Semasa SMP, juga di malam Minggu…
Aku menunggu…
                Menunggu pesan teks singkat dari seseorang. Malam itu aku menunggu dengan perasaan yang sama, hal yang sama, yaitu sebuah sms dari orang yang berbeda dan topic yang berbeda pula. Waktu yang sama…, seperti tiga tahun lalu, aku rindu menunggu”nya”.
                Sebuah pesan singkat yang bergetar lewat merk handphone Nokia. Sebuah gambar amplop coklat krem dengan identitas nama”nya” di bawah gambar.
                “Happy Satnite Miss Nikmah :)”
                Sebuah kalimat sederhana dari seseorang yang istimewa. Inilah yang membuatku rindu menunggu, agar malam Minggu dating lebih cepat, namun akan terasa lebih lama daripada malam-malam yang lainnya. Sebuah kalimat yang ditutup dengan symbol senyum yang membuatku  sesegera mungkin menerawang senyuman”nya” yang biasa kuterima di hari-hari sekolah.
***
                Malam ini, 15 menit berlalu teraa sangat lambat namun cepat. Dia belum menyenggol tujuanku. Haruskah aku memulai?
                “Oh ya bsk jd?” kuketik pertanyaan itu. Lalu menyentuh tombol send. Aku benar-benar mendahului. Apakah aku Nampak ganjen? SEMOGA TIDAK!
               
                Malam minggu ini…
                Aku menunggu…
                Balasan pesan teks singkat dari seseorang. Kau harusmenunggu lagi dan menunggu lagi dan lagi. Malam minggu ini dia sedang mengikuti JMSD (Jama’ah Maulid Simtuth Duror), semacam acara maulidan rutin setiap malam di masjid yang telah ditentukan sesuai jadwal, selama bulan Rabi’ul Awwal. Dan aku menunggu dengan bangga. Dia terdengar saleh mengikuti acara itu. Dia memang rajin hadir di setiap jama’ah shalawat. Aku sangat bangga. Menunggu dengan bangga. Menunguu, menunggu, dan resah. Menunggu dengan jantunjg berdegup seirama detik jarum jam yang berputar. Tik tok dag dig dug dag-tik-dig-tok-dug….
                “Trserah si, Kmnya bs pog? Klo bs ayog…” begitu balasnya. Lantas apa maksudnya “terserah si…” Apakah dia tidak yakin akan janjinya sendiri? Kedengarannya dia juga sudah tidak berminat dengan janjinya sendiri dua minggu lalu. Seperti sudah terdengar basi
image by Google


< >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar