![]() |
20 September 2012 pukul 22:40
First : Ini bukan
puisi. Hanyalah kobaran isi hati yg mulai memberontak tersakiti. Ku ketik
dengan benci, terinspirasi cinta murni. Teruntuk sang penarik hati. HEY KAU
bacalah kemudharatan ini!
WAHAI PANGERAN
Kau Pangeranku, pujaan hatiku.
Kupikir perasaan ini hanya angin berlalu.
Hampir 2 tahun lebih ku tetap terpaku, pada setitik historis yg tak pernah terkikis lenyap.
Meski penantian hanya mampu menghadirkan tangis.
WAHAI PANGERAN
Kau Pangeranku, pujaan hatiku.
Saat awal bocah tengil bertemu ingatkah kau masa itu?
Tiada hasrat berat yg menggelitik ragu.
Namun suatu hari, hanyalah suatu waktu.
Senyum yg terpancar buatku merasa sukar. Makanku enggan, tidur tak terlelapkan.
Dan kisah di seputih kertas diary, namamu,
hai Pangeranku!
Selalu tertahta dengan spidol warna ungu.
WAHAI PANGERAN
Kau Pangeranku, pujaan hatiku.
Cobalah kau renungkan lagu pilu sendu hatiku.
Rasakan nikmatnya penantianku harapkanmu. Menghadapku, menatapku, mungkin itu kenyataan semu.
Mimpi pun takkan mampu, bila kau diam di situ.
Temani aku.
Hai Pangeranku!!
Nyanyikan lagu untukku.
Tuk hapuskan perih empiris yg membatu. CINTA dan SUKA, berpacu
memompa darah menghipnotis otakku pada kisah indah sore atau malam busukmu. Dan akhir cerita,
hadiah yg tercinta akan terhadap pada satu minggu
KAU PANGERANKU..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar